Foto kenangan Sofyan Hadi [sumber gambar]
Tahu bahwa kereta tak lama lagi bakal menabrak truk, Sofyan ke luar dari kabin masinis dan memerintahkan penumpang mundur sambil berpegangan pada tiang atau kursi penumpang. Pada saat itu, keadaan sedemikian genting karena tabrakan tak mungkin bisa dihindari. Meski kondisi saat itu tengah dilanda kepanikan, ditambah gerbong khusus wanita yang berada di bagian paling depan rangkaian sangat penuh, Sofyan tetap memerintahkan mereka untuk tetap mundur ke belakang. Ia bahkan sampai berada di gerbong ketiga demi menyelamatkan seorang anak kecil yang ia temui agar ikut bersama penumpang lainnya.
Sembari menyuruh penumpang agar terus mundur menjauhi gerbong wanita, Sofyan sejatinya memiliki kesempatan untuk menyelamatkan dirinya. Ya, bertahan di gerbong paling belakang atau meloncat keluar adalah pilihan yang rasional jika ingin selamat. Namun, hal tersebut tak dilakukan oleh pemuda yang merupakan anak bungsu dari 4 bersaudara tersebut. Dengan cepat, ia kembali ke kabin depan dan bergabung dengan kedua rekannya. Ketiga petugas tersebut, tetap menjalankan tanggung jawabnya hingga maut pun menyambut.
Lokomotif KA 1131 yang tengah melaju, akhirnya ‘beradu badan’ dengan truk tangki pengangkut BBM. Ledakan besar pun tak terhindarkan saat besi dari kedua kendaraan besar itu saling bertabrakan. Penumpang pun berhamburan dan saling berlomba menyelamatkan diri dengan melompat ke luar melalui jendela. Berbeda dengan nasib ketiga petugas di kabin, para pahlawan itu tak berdaya karena terjebak dalam kobaran api yang melalap seluruh badan kereta. Saat ditemukan tim penyelamat, jasad mereka saling bertumpukan di kabin masinis dalam kondisi hangus akibat terbakar. Termasuk Sofyan.
Kegigihan Sofyan yang ingin mengabdikan dirinya sebagai pegawai kereta api, diketahui dari keuletannya dalam berusaha. Meski sempat gagal sebanyak tiga kali saat mengikuti tes, ia akhirnya berhasil diterima menjadi teknisi oleh PT KAI pada Oktober 2013. Kini, sosok pemberani itu telah tiada. Sebagai bentuk penghargaan, Namanya diabadikan PT KAI sebagai menjadi nama balai pelatihan di Bekasi, yakni Balai Pelatihan Teknik Perkeretapian Sofyan Hadi. Statusnya yang merupakan tenaga kontrak, juga dinaikkan menjadi karyawan tetap.
Namanya diabadikan sebagai Balai Pelatihan Teknik Perkeretapian [sumber gambar]
Sementara untuk kedua rekannya yang lain, PT Kereta Api Indonesia (Persero) memberikan penghargaan berupa kenaikan kenaikan pangkat dua tingkat lebih tinggi. Nama mereka juga diabadikan pada balai pelatihan seperti Sofyan, yakni Balai Pendidikan dan Latihan Agus Suroto di Bandung dan Balai Pendidikan dan Latihan Darman Prasetyo di Yogyakarta. Ketiganya merupakan sosok teladan bagi PT KAI.
Dedikasi dan kisah kepahlawanan yang ditunjukkan oleh seorang Sofyan Hadi di atas, menunjukkan betapa tulusnya sisi kemanusiaan yang ia miliki. Tak menghiraukan nyawanya sendiri, ia memilih keselamatan orang lain agar terhindar dari maut. Pelajaran yang bisa dipetik dari kisah ini adalah, betapa mahalnya nilai dari sebuah tanggung jawab meski hal tersebut harus ditebus dengan nyawa.
", "url" : "https://www.utakatikotak.com/tag/teknisi-kereta", "publisher" : { "@type" : "Organization", "name" : "utakatikotak.com" } }