Ilustrasi sushi (AFP)
Air laut yang semakin panas dan tingkat keasaman meningkat, menurut Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) Amerika Serikat, akan mengganggu ekosistem binatang laut. Ditambah adanya pemancingan ikan berlebihan dan penghancuran habitat laut, ini akan mengeliminasi sumber-sumber makanan favorit manusia.
"Sekarang, banyak dari muatan karbon ini diserap oleh laut," kata Prosanta Chakrabarty, ahli ikan dari Louisiana State University. "Masalahnya karbon membuat air laut semakin asam."
Proses pengasaman ini kemudian merusak kehidupan laut, termasuk susunan koral. "Seiring pengasaman terjadi, terjadi pemucatan, bahkan pemutihan koral. Mereka akan mati karena tak bisa mempertahankan simbiosis mutualisme dengan makhluk invertebrata," kata Chakrabarty.
Ikan-ikan tertentu, seperti tuna sirip biru dan beberapa spesies makarel, adalah yang paling terancam keberadaannya sekarang. Sementara, ketersediaan tuna masih jadi perdebatan. Sebagian percaya area penangkapannya saja yang bakal berpindah, namun ada juga yang meragukan lingkaran reproduksinya.
Guna mengatasi menurunnya populasi spesies ikan yang jadi bahan utama sushi populer, beberapa chef, seperti Bun Lai dari Restoran Mita di New Haven, Connecticut, mulai menyingkirkan ikan yang sepertinya tak akan bertahan lama di laut, misal salmon dan tuna.
Para chef turun tangan sendiri. Mereka keluar masuk pasar demi mencari opsi bahan baku sushi yang lebih masuk akal. Bagi Lai, pilihan paling masuk akal itu adalah ikan carp asia, kepiting lokal, serangga, dan tanaman lokal untuk vegan roll.
", "url" : "https://www.utakatikotak.com/tag/pengelolaan-ikan", "publisher" : { "@type" : "Organization", "name" : "utakatikotak.com" } }