<p style='text-align: justify;'><span style='color:#000000'><img alt='' src='https://majalahcsr.id/wp-content/uploads/2019/07/95764083_waxworm.jpg' style='height:225px; width:400px' /></span></p> <p style='text-align: justify;'><span style='color:#000000'>Ulat Pemakan Plastik - CSIC</span></p> <p style='text-align: justify;'><span style='color:#000000'>Sejumlah ilmuwan menemukan fakta riset menarik, bahwa ada ulat pemakan plastik yang bisa jadi solusi permasalahan sampah plastik.</span></p> <p style='text-align: justify;'><span style='color:#000000'>Para periset di Universitas Cambridge, Inggris, telah menemukan keberadaan larva ngengat, yang bisa memakan zat lilin di dinding sarang lebah. Larva berupa ulat ini rupanya juga bisa mencerna plastik. Dari eksperimen yang dilakukan, serangga ini dapat mengurai ikatan kimia dalam plastik yang merupakan cara mereka dalam mencerna zat lilin pada sarang lebah.</span></p> <p style='text-align: justify;'><span style='color:#000000'>Setiap kali dilakukan riset pastinya, bakal ada kemajuan yang yang mengikuti. Hasil satu riset biasanya membuka jalan bagi riset selanjutnya. Sekarang atau nanti, pastinya ada hal tak terduga terjadi. Contohnya, kasus makalah ilmiah yang dipubikasikan di Current Biology, yang mengungkapkan adanya spesies ngengat yang bisa makan plastik.</span></p> <p style='text-align: justify;'><span style='color:#000000'><img alt='' src='https://majalahcsr.id/wp-content/uploads/2019/07/95764088_waxworm2.jpg' style='height:225px; width:400px' /></span></p> <p style='text-align: justify;'><span style='color:#000000'>Plastik Berlubang Dimakan Ulat Larva Ngengat Setelah 30 Menit – CSIC</span></p> <p style='text-align: justify;'><span style='color:#000000'>Riset yang diungkap makalah ini terinspirasikan dari Federica Bertocchini. Bertocchini adalah seorang peneliti serangga dan juga ilmuwan biologi dari Universitas Cantabria, di Spanyol. Ia mengungkap bahwa ulat ngengat punya kemampuan melubangi dinding lilin di sarang lebah untuk mendapatkan madu. Untuk mengindentifikasi ulat ini, Bertocchini mengambil ulat tersebut dan memasukkannya ke dalam tas plastik dan membawa pulang. Beberapa saat kemudian, ia terkejut saat melihat tas plastiknya berlubang-lubang, sementara ulat-ulat tersebut menempel dimana-mana di dalam rumahnya. </span></p> <p style='text-align: justify;'><span style='color:#000000'>Diketahui setiap tahunnya, sekitar 80 juta ton plastik diproduksi di seluruh dunia. Plastik ini dimanfaatkan dengan beragam tujuan, seperti tas, pengemas makanan, dan penggunaan lainnya. Namun butuh ratusan tahun sampah plastik tersebut bisa terurai.</span></p> <p style='text-align: justify;'><span style='color:#000000'>Di sisi lain, ulat dari ngengat (Galleria mellonella) dapat membuat lubang pada kantung plastik di bawah hitungan jam. Dr. Paolo Bombelli, seorang ahli biokimia, di Universitas Cambridge adalah orang yang telah meneliti serangga ini.</span></p> <p style='text-align: justify;'><span style='color:#000000'>“Serangga ini adalah titik permulaan,” ungkap Paolo kepada pewarta BBC. “Kita hanya perlu lebih jauh memahami mekanisme prosesnya”. Dengan penemuan ini, Paolo berharap, bisa menemukan solusi terkait mengeliminir dari sampah plastik ini.</span></p> <p style='text-align: justify;'><span style='color:#000000'>Dr. Paolo dan rekan sejawatnya, Dr. Federica Bertocchini dari Universitas Cantabria dan anggota Dewan Riset Nasional di Spanyol telah mematenkan penemuan mereka ini.</span></p> <p style='text-align: justify;'><span style='color:#000000'>Keduanya berupaya memecahkan misteri terkait unsur kimiawi di balik proses terurainya plastik secara alami. Mereka berpikir mikroba di dalam perut ulat termasuk serangga dimaksud berperan dalam penguraian plastik. Bila proses kimiawi bisa diidentifikasi, hal ini bisa menjadi solusi meredam permasalahan plastik yang sangat mencemari lingkungan.</span></p> <p style='text-align: justify;'><span style='color:#000000'>“Kami sedang berupaya mengimplementasikan penemuan ini cara yang layak menyingkirkan sampah plastik. Hal ini sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan laut, sungai, dan seluruh lingkungan dari bertambahnya sampah plastik,” tegas Dr. Frederica Bertocchini.</span></p> <p style='text-align: justify;'><span style='color:#000000'>“Namun penemuan ini tidak lantas membenarkan perilaku membuang sampah plastik sembarangan,” kata ilmuwan ini mengingatkan.</span></p> <p style='text-align: justify;'><span style='color:#000000'>Penelitian sudah dipublikasikan di dalam jurnal ilmiah, Current Biology.</span></p>