Apabila tidak ditangani dan bakteri terus berkembang di dalam darah, kondisi ini berpotensi menyebabkan berbagai komplikasi penyakit yang serius.
2. Penyebab bakteremia
Berdasarkan sebuah laporan dalam jurnal Virulence tahun 2014, penghalang pertama tubuh dari serangan bakteri patogen adalah kulit dan membran mukosa. Umumnya, mikroba masuk ke dalam tubuh melalui kulit, saluran pencernaan, dan saluran pernapasan. Jika penghalang tersebut rusak, maka hal ini dapat menjadi celah bagi bakteri untuk masuk ke tubuh.
Melansir Healthline, berbagai bakteri dapat menyebabkan bakteremia. Beberapa bakteri tersebut menimbulkan infeksi di dalam darah, contohnya Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Pneumococcal bacteria, Streptococcus, spesies Salmonella, dan Pseudomonas aeruginosa.
Sementara itu, beberapa kondisi yang bisa menyebabkan bakteremia yaitu:
Prosedur medis minor, contohnya saat pembersihan gigi atau mencabut gigi, pemasangan selang kateter ke dalam saluran kemih, memasang selang ke saluran pernapasan, dan saat menjalani operasi.
Infeksi, seperti infeksi paru-paru (pneumonia) dan infeksi yang menyebar dari bagian tubuh lainnya ke dalam aliran darah. Bakteri yang memasuki aliran darah dapat menyebabkan bakteremia.
Penyuntikan obat-obatan menggunakan jarum suntik yang tidak steril atau tidak dilakukan pembersihan area kulit terlebih dahulu sebelum disuntik.
Kondisi lainnya, seperti luka terbuka dan luka bakar.
3. Gejala yang perlu diwaspadai
Merangkum dari beberapa sumber, bakteremia tidak menimbulkan gejala pada beberapa kasus. Hal ini dikarenakan sistem imun tubuh mampu untuk mengatasi serangan bakteri tersebut. Akan tetapi, jika bakteremia sudah menyebabkan infeksi, gejala-gejala yang bisa dialami yaitu:
Demam
Tubuh gemetar
Menggigil
Apabila infeksi tersebut berkembang menjadi sepsis atau syok septik, penderita juga merasakan gejala yang lebih parah, di antaranya:
Napas menjadi lebih cepat
Detak jantung yang cepat
Menggigil
Penurunan frekuensi buang air kecil
Tekanan darah rendah
Tampak kebingungan atau linglung